Selasa, 27 November 2018

Analytical Hierarchy Process (AHP)

Pada dasarnya, metode Analytical Hierarchy Process (AHP) ini menguraikan suatu situasi yang kompleks dan tak terstruktur ke dalam bagian komponen-komponennya; mengatur bagian atau variabel ini ke dalam susunan hirarki; memberi nilai numerik menurut pertimbangan subjektif tentang relatif pentingnya setiap variabel; dan mensintesis berbagai pertimbangan ini untuk menetapkan variabel mana yang memiliki prioritas paling tinggi dan mempengaruhi hasil pada situasi tersebut. Dalam menyelesaikan persoalan dengan AHP ada beberapa tahapan, yaitu: penguraian (decomposition), perbandingan berpasangan (pair comparisons), sintesa prioritas (synthesis of priority), dan konsistensi logis (logical consistency).

1.     Decomposition
                        Sistem yang kompleks dapat dengan mudah dipahami kalau kita memecahnya menjadi berbagai elemen yang menjadi elemen-elemen pokoknya dan menyusun elemen tersebut secara hierarkis. Hierarki merupakan alat mendasar dari pikiran manusia yang mengidentifikasi elemen-elemen suatu persoalan, mengelompokkan elemen-elemen itu ke dalam beberapa kumpulan yang homogen, serta menata kumpulan-kumpulan itu pada tingkat-tingkat yang berbeda. Ada dua macam hierarki, yaitu hierarki struktural dan hierarki fungsional. Pada hierarki struktural, sistem yang kompleks disusun ke dalam komponen-komponen pokonya dalam urutan menurun menurut sifat struktural, misalnya hierarki struktural dari alam semesta akan menurun dari galaksi ke konstelansi, ke sistem solar, ke planet, dan seterusnya. Hierarki fungsional menguraikan sistem yang kompleks menjadi elemen-elemen pokoknya menurut hubungan essensial mereka. Hierarki fungsional sangat membantu untuk membawa sistem ke arah tujuan yang diinginkan.

2.     Comparative Judgement
              Perbandingan berpasang yaitu dimana elemen-elemen dibandingkan berpasangan terhadap suatu kriteria yang ditentukan. Untuk perbandingan berpasang ini, matriks merupakan bentuk yang lebih disukai. Matriks merupakan alat yang sederhana dan biasa dipakai dan memberi kerangka untuk menguji konsistensi, memperoleh informasi tambahan dengan jalan membuat segala perbandingan yang mungkin dan menganalisis kepekaan prioritas menyeluruh terhadap perubahan dalam pertimbangan.
            Untuk mengisi matriks banding berpasang itu, kita menggunakan bilangan untuk menggambarkan relatif pentingnya suatu elemen di atas yang lainnya, berkenaan dengan sifat tertentu. Skala banding berpasang itu mendefinisikan dan menjelaskan nilai 1 sampai 9 yang ditetapkan bagi pertimbangan dalam membandingkan pasangan elemen yang sejenis di setiap tingkat hierarki terhadap suatu kriteria yang berada setingkat di atasnya. Pengalaman telah membuktikan bahwa skala dengan sembilan satuan dapat diterima dan mencerminkan derajat sampai mana kita mampu embedakan intensitas tata hubungan antar elemen.

3.     Synthesis of Priority
              Untuk memperoleh prioritas menyeluruh bagi suatu persoalan keputusan, kita harus melakukan suatu pembobotan dan penjumlahan untuk menghasilkan satu bilangan tunggal yang menunjukkan prioritas setiap elemen. Langkah pertama adalah menjumlahkan nilai-nilai dalam setiap kolom. Lalu membagi setiap entri dalam setiap kolom dengan jumlah pada kolom tersebut untuk memperoleh matriks yang dinormalisasi. Terakhir, merata-ratakan sepanjang baris dengan menjumlahkan semua nilai dalam setiap baris dari matriks yang dinormalisasi itu, dan membaginya dengan banyaknya entri dari setiap baris. Sintesis ini menghasilkan persentase prioritif relatif menyeluruh untuk elemen-elemen yang dibandingkan.

4.     Logical Consistency
            Dalam persoalan pengambilan keputusan, mungkin penting untuk mengetahui betapa baiknya konsistensi karena kita mungkin tidak mau keputusan itu didasarkan atas pertimbangan yang mempunyai konsistensi begitu rendah sehingga nampak seperti pertimbangan acak. Di lain pihak, konsistensi sempurna sukar dicapai. Konsistensi sampai kadar tertentu dalam menetapkan prioritas untuk elemen-elemen berkenaan dengan beberapa kriteria adalah perlu untuk memperoleh hasil-hasil yang sah dalam dunia nyata. AHP mengukur konsistensi menyeluruh dari berbagai pertimbangan kita melalui suatu rasio konsistensi. Nilai rasio konsistensi harus 10 persen atau kurang. Jika ini lebih dari 10 persen, pertimbangan itu mungkin agak acak dan mungkin perlu diperbaiki
Thomas L Saaty. 1993. Pengambilan Keputusan. Jakarta: PT Pustaka Binaman Pressindo. Hal:3, 31 17-19.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Jasa Konsultasi dan Privat Masalah Tugas Akhir

Dalam mengerjakan Tugas Akhir (Skripsi, Tesis, Disertasi atau penelitian lainnya) akan banyak sekali tantangan yang harus di hadapi. Sehingg...